Kamis, 22 Desember 2011

Askep Jiwa Gangguan Konsep Diri; Harga Diri Rendah

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA HARGA DIRI RENDAH


I. MASALAH UTAMA
Gangguan konsep diri  :  harga diri rendah

II. PROSES TERJADINYA MASALAH
A. Pengertian
Harga diri rendah adalah perilaku negatif terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tak langsung. (Scultz dan Videback, 1998). 

B. Proses Terjadinya Masalah
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang diriya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sunden, 1995). Konsep diri tidak terbentuk sejak lahir namun dipelajari. 

Rentang Respon Konsep Diri

Respon adaptif Respon maladaptif


Aktualisasi   Konsep diri Harga diri     Kerancuan        Depersonalisasi
     Diri          positif    rendah identitas 
Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Keliat, 1999). Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain.
Gangguan harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial. 

C. Tanda Dan Gejala
Ada 10 cara individu mengekspresikan secara langsung harga diri rendah (Stuart dan Sundeen, 1995)
1. Mengejek dan mengkritik diri sendiri
2. Merendahkan atau mengurangi martabat diri sendiri
3. Rasa bersalah atau khawatir
4. Manisfestasi fisik : tekanan darah tinggi, psikosomatik, dan penyalahgunaan zat.
5. Menunda dan ragu dalam mengambil keputusan
6. Gangguan berhubungan, menarik diri dari kehidupan sosial
7. Menarik diri dari realitas
8. Merusak diri
9. Merusak atau melukai orang lain
10. Kebencian dan penolakan terhadap diri sendiri

D. Etiologi
Koping mekanisme individu tak efektif. Yaitu koping mekanisme seseorang terhadap stressor yang diterima oleh seorang individu tidak adekuat. 

E. Faktor Yang Mempengaruhi Harga Diri Rendah 
1. Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag tidak realistis. 
2. Stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti :
a. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menaksika kejadian yang megancam.
b. Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi peran :
1). Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk peyesuaian diri.
2). Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3). Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan. 
3. Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara: 
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubugan kerja dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopani (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai.
2. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama

F. Mekanisme Sebab – Akibat
Sebab  : Koping mekanisme seseorang terhadap stressor yang diterima oleh seorang individu tidak adekuat menyebabkan individu malu terhadap dirinya, merasa tidak berguna, tidak berharga dan pesimis.
Akibat  : Gangguan Isolasi sosial  : menarik diri
Mekanisme  : Harga diri yang rendah menyebabkan klien merasa malu sehingga klien lebih suka menyendiri dan menghindari orang lain, klien mengurung diri sehingga hal ini dapat menyebabkan klien berfikir yang tidak realistik.

III. DAFTAR MASALAH
DATA MASALAH ETIOLOGI
DO  :
- Penggunaan mekanisme pertahanan tidak sesuai atau ketidak mampuan memenuhi peran yang diharapkan.
- Tidak mampu memecah- kan masalah
- Perubahan dalam partisi-pasi sosial
- Perilaku destruktif yang ditujukan pada diri sendiri maupun orang lain.
- Tinggi insiden kecelakaan
- Sering sakit
- Ketidak mampuan meme-nuhi kebutuhan dasar
- Penyalahguanaan obat terlarang

DS  :
- Pengungkapan klien tentang ketidakmampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan.
- Klien melaporkan tentang kesulitan dengan stress kehidupan.
- Klien mengatakan merasa khawatir dan cemas.

DO  :
- Klien tampak lebih suka sendiri
- Bingung bila disuruh me-milih alternatif tindakan
- Ingin mencederai diri/ mengahiri kehidupan
- Produktifitas menurun
- Cemas dan takut

DS  :
- Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh/ tidak tahu apa-apa, mengkritik diri sendiri.
- Klien mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
- Klien mengungkapkan rasa bersalah terhadap sesuatu/ seseorang

DO  :
- Apatis
- Ekspresi sedih
- Afek tumpul
- Menyendiri/ menghindari orang   lain
- Berdiam diri di kamar
- Komunikasi kurang/ tidak ada (banyak diam)
- Kontak mata kurang (menunduk)
- Menolak berhubungan dengan orang lain
- Posisi tidur seperti janin (menekur)
- Perawatan diri kurang

DS  :
- Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, ka-dang hanya menjawab dengan singkat “tidak”, “ya” Mekanisme koping individu tak efektif



























Gangguan konsep diri  : harga diri rendah


















Gangguan isolasi sosial : menarik diri Tidak dapat mengatasi masalah dengan baik 





























Mekanisme koping tidak adekuat




















Harga diri rendah









IV. POHON MASALAH
Isolasi sosial : menarik diri                                                        akibat

Gangguan konsep diri : harga diri rendah                               core problem

Tidak efektifnya koping individu                                               penyebab
                                                                                                (Keliat, 1998)

V. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Isolasi sosial : menerik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu

VI. FOKUS INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri b.d gangguan konsep                      diri : harga diri rendah
A. Tujuan Umum
Klien dapat mencegah terjadinya isolasi sosial : menarik diri, dalam kehidupan sehari-hari.

B. Tujuan Khusus
1. Klien dapat membina berhubungan saling percaya
Kriteria evaluasi :
- Ekspresi wajah bersahabat
- Menunjukkan rasa senang
- Ada kontak mata
- Mau berjabat tangan dan menyebut nama
- Mau menjawab salam
- Klien mau duduk berdampingan dengan perawat
- Mau mengutarakan masalah   yang dihadapi
Intervensi :
- Bina hubungan salign percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
a. Sapa klien dengan ramah baik dengan verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap menerima klien apa adanya
g. Beri perhatian kepada kllien dan perhatika kebutuhan dasar klien
Rasionalisasi : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk hubungan interaksi selanjutnya.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Kriteria Evaluasi : 
- Daftar kemampuan yang dimiliki klien di RS, rumah, sekolah dan tempat kerja.
- Daftar positif keluarga klien
- Daftar positif lingkungan klien
Intervensi :
2.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien, buat daftarnya.
2.2. Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif
2.3. Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien.

Rasionalisasi : 
Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego diperlukan sebagai dasar asuhan keperawatannya.
Reinforcemen positif akan meningkatkan harga diri klien
Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian.

3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Kriteria evaluasi :
- Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan di rumah sakit
- Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan dirumah
Intervensi Keperawatan :
3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih digunakan selama sakit
3.2. Diskusikan kemampuan yang dapt dilanjutkan pengguanaan di rumah sakit
3.3. Berikan pujian
Rasionalisasi :
- Diskusikan pada klien tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasarat untuk berubah
- Pengertia tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya.

4. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kriteria Evaluasi :
- Klien memiliki kemampuan yang akan dilatih
- Klien mencoba
- Susun jadwal harian
Intervensi Keperawatan :
4.1. Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.
4.2. Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh.
4.3. Beri pujian atas keberhasilan klien.
4.4. Diskusikan jadwal kegiatan haria atas kegiatan yang telah dilatih.
Catatan : ulangi untuk kemampuan lain sampai semuanya selesai
4.5. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan, buat jadwal.
- Kegiatan mandiri
- Kegiatan dengan bantuan sebagian
- Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
4.6. Tingkatkan kegiatan yang disukai sesuai dengan kondisi klien
4.7. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
Rasionalisasi : 
Klien adalah individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya.
Contoh peran yang dilihat klien akan memotovasi klien untuk melaksanakan kegiatan.

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuanya.
Kriteria Evaluasi :
- Klien melakukan kegiatan yang telah dilatih (mandiri, dengan bantuan atau tergantung)
- Klien mampu melakukan beberapa kegiatan mandiri

Intervensi Keperawatan :
5.1. Beri kesempatan pada untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
Rasionalisasi :
Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri kllien
Memberikan kesempatan kepada klien untuk tetap melakukan kegiatan yang biasa dilakukan

6. Kllien dapt memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Kriteria Evaluasi : 
- Keluarga dapat memberi dukungan dan pujian
- Keluarga memahami jadwal kegiatan harian klien
Intervensi Keperawatan :
6.1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien denga harga diri rendah.
6.2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
6.3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
6.4. Jelaskan cara pelaksanaan jadwal kegiatan klien di rumah
6.5. Anjurkan memberi pujian pada klien setiap berhasil
Rasionalisasi :
Mendorong keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien
Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.




Photobucket